Pada pukul tiga dinihari kemarin aku memberi senyum terbaikku untuk meyakinkan seorang bapak yang kebingungan, bahwa putrinya akan mendapat pelayanan yang semestinya dari RSDK.
“Saya belum mengurus Jamkesmas, tapi saya yakin pak dokter pasti bijaksana untuk tidak menambah beban keluarga kami. Saya hanya ingin putri saya kembali sehat.Tolong berikan obat paling manjur, dok.”
I’ve heard those line for thousand times. Kadang terasa meletihkan. Tapi kemarin aku sadar, adalah lompatan kepercayaan yang amat jauh bagi seorang pasien dari desa untuk mempercayai institusi kesehatan modern seperti Rumah Sakit. Dengan beragam kerumitan administrasinya. It’s part of our duty to keep that faith. So I keep smiling.

2 Responses to “Senyum pukul tiga”
  1. jangankan yang dari desa, mas. lah saya yang besar di jakarta dan bisa dibilang sudah dijejeli berbagai propaganda “dunia modern” saja masih perlu melakukan lompatan kepercayaan kalo ke RS.

  2. Gpp mas, yang saya jumpai, sebagian kalangan yang well informed memang lebih kritis. Saya sih senang-senang saja karena berarti kesadaran akan pentingnya kesehatan disadari betul. Kami sekadar membantu melompat saja kok ^^

Leave a Reply